sponsor

Slider

Seputar Bekasi

Pemerintahan

Tokoh

Kuliner

Piknik

Olah Raga

» » Manjakan Lidah Kala Berbuka dengan Asinan Sayur Bekasi

Bekasi Selatan - Buka puasa ? Hemmm..mungkin asinan sayur khas Bekasi dapat Anda coba. Selain tidak membosankan, makanan ini terbilang ekslusif karena tidak banyak orang yang menjualnya. Tetapi masyarakat Bekasi selalu membanggakan asinan sayur ini.

“Pedagang asinan sayur seperti hantu saja. Kadang-kadang muncul pas kita tidak ingin beli. Tapi giliran “ngidam”, nyarinya setengah mati,” kata Nur(31), warga Margajaya yang tengah membeli asinan sayur pada penjual keliling di depan rumahnya.

Menurut Nur, membuat asinan tidak segampang membuat makanan seperti biasanya. Rasa yang dihasilkan asinan sayur tergantung peracikannya. Asinan sayur, kata Nur, sangat sensitif dengan percampuran bumbu-bumbunya. Kurang bumbu sedikit saja asinan sayur rasanya bakal tidak sesuai.

“Hampir setiap warung yang menjual asinan rasanya bisa berbeda. Lain dengan gado-gado yang relatif sama rasanya. Kalau bukan orang asli sini pasti tidak bisa,” katanya.

Asinan sayur memang bisa ditemui di luar Bekasi, misalnya di Bogor. Tetapi, bagi orang Betawi khususnya Bekasi, asinan sayur ini mempunyai perbedaan rasa yang sangat mencolok dengan asinan daerah lain, meski bahan pokok yang digunakan sama. Asinan sayur khas Bekasi cenderung manis dan asam, sedangkan di daerah Sunda agak asin.

Bahan untuk membuat asinan sayur Bekasi sebenarnya sangat sederhana. Anda hanya menyediakan sayur-sayuran seperti tauge, kol, wortel, mentimun dan daun sawi asin. Kemudian dirajang tipis-tipis dan direndam dalam air cuka selama beberapa saat. Bumbunya sambal kacang. Tetapi Anda juga mesti menyediakan saus gula merah untuk mengucuri asinan agar terasa legit dan manis.

“Kalau asinan Bekasi ya mesti pakai saus gula merah. Jangan lupa pakai sawi asin. Ini yang membedakan asinan Bekasi dengan asinan di daerah lain,” kata Ahmad(52), penjual asinan sayur keliling yang akrab disapa Babeh. Dia berkeliling di sekitar Desa Margajaya.

“Krupuk kuning juga jangan lupa. Itu wajib,” lanjutnya.

Harga yang ditawarkan Babeh cukup murah. Satu porsi asinan sayur hanya Rp6.000 saja. Bermodalkan gerobak mini, Babeh berjalan kaki mengelilingi Desa Margajaya. Paling jauh hingga ke Pasar Proyek. Saat melewati gang-gang sempit setiap sore, Babeh memukulkan besi hingga berdenting keras. Maka orang pun segera tahu bila Babeh lewat.

“Saya mulai jalan sehabis ashar. Paling ya muter-muter di sini saja,” kata Babeh.

Salah seorang warga, Nunik (35), mengaku selalu menunggu kehadiran asinan sayur buatan Babeh. Menurutnya, asinan yang rasanya seperti asinan buatan Babeh sangat jarang. Memang ada orang yang menjual asinan, tapi biasanya tidak menggunakan saus gula merah dan sawi asin. Sehingga, kata Nunik, asinannya terasa hambar.

“Saya selalu menunggu kalau sore hari, kira-kira menjelang maghrib. Apalagi di bulan puasa seperti ini. Sayang sekali di Bekasi jarang saya temui asinan serupa. Padahal kata teman saya, ini asinan sayur khas Bekasi. Pernah dengar ada asinan yang seperti ini, tapi kebanyakan justru di Jakarta,” ungkap Nunik, warga pendatang yang kini menetap di Bekasi.


Anda tertarik? Cobalah menu asinan sayur khas Bekasi untuk buka puasa Anda bersama keluarga. Barangkali Anda dapat membuatnya sendiri. Menikmati makanan sambil melestarikannya tentu sangat bermanfaat, bukan? (Respati Wasesa)
(brat)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply